Tampilkan postingan dengan label KISAH NABI-NABI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH NABI-NABI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2016

MENJAWIL KISAH QABIL DAN HABIL Karya : Sita Rose

Sita Blog : "Nina Bobo"
Minggu, 26 Juni 2016 - 06:01 WIB

Image: "Kisah Qabil dan Habil" (Foto: Bahrun Rahimsyah)
Kisah Qabil dan Habil
“MENJAWIL KISAH QABIL DAN HABIL”
Karya : Ki Slamet 42

Alkisah Hawa isteri Adam lahirkan Qabil dan Iqlima
Qabil berwajah tampan, perkasa, gagah  mempesona
Iqlima berparas rupawan, menarik, dan cantik jelita
Merekalah  anak kembar pertama  Adam dan Hawa
Yang diasuh  dan dibesarkan dengan sepenuh cinta

Di tahun berikutnya lahirkan lagi Habil dan Labuda
Habil tak setampan Qabil tapi lebih baik perilakunya
Labuda tiada secantik Iqlima tapi ramah tutur sapa
Merekalah anak kembaran  kedua  Adam dan Hawa
Yang diasuh  dan dibesarkan dengan sepenuh cinta

Dari kedua pasang anak kembar ini berbiak manusia
Jadi berjenis-jenis suku berbermacam-macam bangsa
Dengan berbagai rupa warna kulit  dan karakternya
Yang timbulkan beragam bahagia  dan duka nestapa
Sebab bermanja-manja bertemali kasih nafsu angkara

Awal cerita kriminal tentang laku kejamnya manusia
Ketika Nabi Adam  mendapat petunjuk Allah Ta’ala
Kawinkan anak-anaknya yang telah beranjak dewasa
Qabil dengan Labuda  adapun  Habil dengan Iqlima
Itu syariat Allah kepada Adam agar melaksakannya

Adam pun segera laksanakan petunjuk Allah Ta’ala
Kawinkan Qabil dengan Labuda,  Qabil menolaknya
Karena Qabil sudah terlanjur suka dan cinta Iqlima
Sedankan Habil dan Iqlima patuh dan menurut saja
Sebab menyadari itu sudah ketentuan syariat agama

Demi melihat Qabil tetaplah menolak keputusannya
Adam perintahkan  Qabil dan Habil  agar keduanya
Memberi persembahan qurban kepada  Allah Ta’ala
Agar mereka tahu sendiri bahwa perlakuan ayahnya
Semata-mata itu atas dasar ketentuan syariat agama

Dengan  disaksikan keluarga  dan  putera-puterinya
Qabil, Habil pun masing-masing serahkan qurbannya
Mereka letakkan qurban di atas bukit Arafah sana
Qabil qurbankan sedikit gandum hasil pertaniannya
Habil  qurbankan kambing yang sangat  disayangnya

Setelah mereka letakkan qurban di atas bukit sana
Merekapun cepat kembali ke tempat tinggal semula
Dari jauh mereka sekeluarga saksikan secara nyata
Qurban gandum sembahan Qabil tetap utuh adanya
Qurban kambing Habil lenyap tersambar api dahana

Saksikan sendiri qurban sembahannya tak diterima
Remuk redamlah  hati Qabil,  dia demikian kecewa
Dia terpakasa menerima keputusan kawini Labuda
Sedang Habil  yang sembahan  qurbannya  diterima
Dia bersyukur ikhlas terima ketentuan Allah Ta’ala

Ketika hati dirudung duka dan kecewa tiada tara
Maka datang sang Iblis durjana penggoda manusia
Bisikkan ke telinga Qabil bujukkan suatu rencana
Agar adik kandungnya sendiri  Habil dibunuh saja
Agar tiada ada lagi penghalang untuk miliki Iqlima

Qabil terjerat jua bisikan dan bujukan Iblis durjana
Saat Habil gembalakan ternaknya  di tepi belantara
Tempat sepi jauh dari pemukiman Adam dan Hawa
Qabil keras pukul kepala Habil dengan kayu hingga
Adik kandungnya itu tewas seketika  temui ajalnya

Inilah peristiwa kriminal pertama atas umat manusia
Sebab nafsu tamak, iri, dengki,  tega bunuh sesama
Tak peduli meski adik kandung sendiri tak mengapa
Dia tiada bisa mengekang rasa ego yang menggelora
Terjerumus di lembah nista,  terbujuk Iblis durjana

Begitulah Qabil  yang sudah dirasuk  nafsu angkara
Dia tak bisa mengekang  segala ajakan berbuat dosa
Melihat adiknya tewas timbul rasa takut tak terkira
Ia berlari kesana kemari tak tahu mesti berbuat apa 
Tiada berani kembali pulang  menemui orang tuanya

Qabil kembara entah kemana hutan rimba belantara
Lembah, ngarai, sungai,  ombak samudra  dilaluinya
Konon cerita Qabil  jadi  penghamba Iblis penggoda
Ajak  bujuk manusia lakukan maksiat berbuat dosa
Bersumpah tiada mau henti sampai hari kiamat tiba

Melihat kenyataan ini betapa duka Adam dan Hawa
Dia pasrah dan berserah diri pada  Tuhan Pencipta
Anggap semua kejadian itu takdir dari Allah semata
Dan mesti diterima dengan kesabaran rasa dan atma
Adam Hawa berdoa pada Allah mohon ampunanNya

R e f e r e n s i :
Burhan Rahimsyah
Memetik Hikma Dari Kisah Teladan
25 Nabi & Rasul - Lintas Media - Jombang

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 25 Juni 2016 – 23:25 WIB

 

Sabtu, 18 Juni 2016

PUISI : MANUSIA PERTAMA ADAM DAN HAWA KARYA KAK SITA

Sita Blog : Nina Bobo
Minggu, 19 Juni 2016 - 04:21 WIB

Image "Kisah Manusia Pertama" (Foto: SP)
Kisah Manusia Pertama

“MANUSIA PERTAMA ADAM DAN HAWA”
Karya : Kak Sita Rose

Terkisahlah Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa
Diturunkan Tuhan ke dunia dari  Swargaloka
Sebab konsumsi buah khuldi yang sebelumnya
Tuhan telah peringati agar tidak memakannya
Tetapi mereka berdua tetap saja melanggarnya

Adam dan Hawa tergoda rayuan Iblis durjana
Yang tak menyadari itu suatu jerat mencelaka
Agar mereka tak bisa hidup kekal dalam sorga
Kehidupan penuh kenikmatan kekal selamanya
Sebab itu, Iblis, Adam, Hawa terima akibatnya

Maka, mereka diturunkan Tuhan ke bumi loka
Kembara di alam fana hidup penuhlah sengsara
Konon kisah Adam diturunkan di tanah Hindia
Sedang Siti Hawa diturunkan di jazirah Arabia
Iblis jadi penggoda manusia  agar berbuat dosa

Di bumi,  Adam terus berkelana cari Siti Hawa
Siti Hawa, cari Adam tak kenal lelah putus asa
Berbagai macam rintangan, derita, mara bahaya
Mereka  hadapi  dengan penuh  ketabahan jiwa
Hingga Tuhan mempertemukan mereka berdua

Kononlah kisah di Padang Arafah Adam Hawa
Dipertemukan lagi oleh Tuhan Maha Pencipta
Setelah empat puluh tahun lamanya tak jumpa
Nampak Adam dan Hawa saling bertatap mata
Lalu saling lepas rindu, dunia jadi milik mereka

Mereka pun  tinggal menetap  di dalam gua-gua
Di sekitar daerah padang Arafahlah tempatnya
Berbekal ilmu,  alam sekitar pun  mereka kelola
Mengolah lahan berburu hewan di hutan rimba
Miliki anak Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda

 Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 19 Juni 2016 – 03:36 WIB

Referensi:
Burhan Rahimsyah
Memetik Hikmah Dari Kisah Teladan
25 Nabi & Rasul 

 

Jumat, 15 Januari 2016

"KISAH SITI HAJAR DAN NABI IBRAHIM" Dikisahkan oleh Sita

Sita Blog : "Nina Bobo"
Sabtu, 16 Januari 2016 - 09:23 WIB

Dikisahkan suatu ketika Sitti Sarah istri Nabi Ibrahim yang pertama, marah kepada Sitti Hajar istri Nabi Ibrahim a.s. yang kedua, yang diberikan oleh raja Mesir kepadanya. Sitti Hajar merasa tidak senang dan bersumpah bahwa ia akan segera menjauhi Sitti Sarah, tak mau tinggal se negeri selama-lamanya. Oleh sebab itu Sitti Hajar mendesak kepada Nabi Ibrahim a.s. supaya mereka segera meninggalkan negeri Syam, hijrah ke negeri lain. Karena demikianlah sumpah yang diucapkan, dan dengan pengharapan semoga di negeri yang baru itu mereka akan dapat hidup dengan tenteram.

Ketika itulah Nabi Ibrahim a.s. menerima wahyu dari Tuhan, yang memerintahkan agar dia bersama Sitti Hajar dan puteranya yang masih kecil yaitu Ismail agar segera meninggalkan negeri Syam, berjalan ke arah selatan menuju tanah Mekah sekarang ini. Tetapi negeri Mekah pada waktu itu masih belum ada. Yang ada hanya gurun pasir dan bukit-bukit batu cadas, panas kering tak berair sama sekali, sunyi sepi tak berpenghuni. Kesanalah Nabi Ibrahim a.s. beserta isteri dan anaknya, Ismail pergi.

Beruntunglah di sana tumbuh sebatang pohon kayu yang bisa dijadikan tempat untuk beristirahat berlindung dari panasnya terik matahari. Beberapa lama kemudian setelah Nabi Ibrahim a.s. menyediakan air sisa bekal yang ada ia pun bermaksud meninggalkan Sitti Hajar dan puteranya Ismail yang masih kecil itu di sana.

Nabi Ibrahim a.s. segera berjalan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali menuju ke negeri Syam, tetapi Sitti Hajar yang melihat itu segera berlari-lari menyusulnya sedang puteranya Ismail ditinggalkan di bawah pohon kayu, seraya berseru kepada Ibrahim :

“Wahai suamiku Ibrahim hendak kemanakah? Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua di sini? Apa yang bisa kami perbuat di tempat ini?”

Sitti Hajar menangis, hatinya merasa sangat sedih, berulang-ulang ia menahan dengan merayu, membujuk suaminya agar tidak pergi meninggalkan dia dan puteranya. Akan tetapi Nabi Ibrahim a.s. dengan langkah yang tetap terus berjalan, tidak mau menoleh barang sedikitpun tak mau mendengar tangisan yang menyayat dari isteri dan itu. Sitti Hajar putus harapan untuk menahan suaminya, lalu ia bertanya kepada Nabi Ibrahim :

“Tuhankah yang menyuruh engkau pergi, wahai Ibrahim?”
“Ya!” jawab Nabi Ibrahim.
“Oh..., jika demikian saya percaya, bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kami berdua tinggal di sini. Tuhan pasti akan melindungi kami!” berkata Sitti Hajar.

Setelah itu Sitti Hajar pun pergi meninggakan suaminya kembali menghampiri puteranya, Ismail yang masih tidur di bawah pohon kayu. Sementara itu, Nabi Ibrahim a.s. berjalan terus dengan hati yang tetap dan tabah karena menjunjung tinggi perintah Tuhan. Maka sampailah ia di Baitul Haram, di mana ia bersimpuh sambil menadahkan kedua telapak tangannya, berdo’a ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

“Ya Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di wadi, yang tak ada sama sekali tanaman dan tumbuhan, dekat Baitul Haram. Hendaklah engkau jadikan mereka orang yang mendirukan dan melakukan sembahyang. Hendaklah engkau jadikan hati manusia condong kepada mereka, berilah mereka rezeki dengan buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Surat Ibrahim ayat 37) Selesai berdoa, ia lalu bangkit melanjutkan perjalannya ke negeri Syam.

Sementara itu Sitti Hajar dan puteranya, sepeninggal Nabi Ibrahim a.s. mengalami penderitaan dan kesukaran yang teramat sangat. Air persediaan habis. Air susu Sitti Hajar pun kering. Betapa sengsara dan dahaganya kedua insan yang tak berdaya itu. Panas terik matahari terasa membakar tubuhnya, namun tak ada stetes pun air yang bisa diminum.  Akan tetapi Sitti Hajar tettap tabah. Ia kuatkan dirinya meski berjalan dengan lunglai karena kehausan, ia terus melangkah mencari air hingga sampai ke kaki bukit Safa. Diangkat tangannya untuk melindungi matanya dari silaunya cahaya matahari yang begitu terik. Ia melihat sekeliling, sejauh mata memandang tak seorang manusia pun yang nampak kelihatan. Di tempat itu hanya padang pasir dan bukit-bukit batu semata. Tidak jauh di hadapannya ada pula sebuah bukit kecil yang dikenal dengan nama bukit Marwah. Lalu Sitti Hajar menuju bukit itu dengan berlari. Tak seberapa lama ia pun berhenti di sana, memandang ke sana-sini, tapi tak juga menjumpai manusia di sana. Akan tetapi ia belum juga berputus asa meski perasaan lelah begitu menderanya, ia terus berlari berulang-ulang dari bukit safa hingga ke bukit marwah. Dan itu diulang-ulangnya sampai tujuh kali. Meskipun demikian tak satupun manusia kelihatan. (Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu rukun haji yang disebut Sa’i. Berlari-lari kecil tujuh kali pulang pergi antara bukit Safa dan Marwah.)

Sitti Hajar terhenyak di kaki bukit Marwah, perasaan letih, lesu, dan serasa tak berdaya lagi untuk menahan haus, lapar yang tak terhingga. Ia menyerah kepada takdir Tuhan. Ketika itulah sekonyong-konyong, ia mendengar ada suara gaib yang memanggil-manggil namanya. Ia pun melihat ke sekeliling, tetapi tak seorang pun nampak kelihatan. Tiba-tiba ia melihat malaikat Jibril yang menampakkan diri sambil mengepak-ngepakkan sayapnya memukul ke tanah lalu menghilang dalam sekejap.

Sitti Hajar mendekati tempat itu. Atas kuasa Tuhan, rupanya tanah yang bekas dipukul-pukul oleh sayap malaikat Jibril itu memancarlah air yang cukup berlimpah. Sitti Hajar membendung air itu agar jangan sampai mengalir ke tempat lainnya. Terhindarlah Sitti Hajar dan puteranya Ismail dari bahaya maut yang menimpanya. Air yang keluar dari lubang bekas pukulan malaikat Jibril itu dikenal dengan nama Air Zamzam.

Suatu ketika melintaslah serombongan kafilah suku Jurhum dari negeri Yaman. Dari jauh mereka melihat burung-burung berterbangan di sekitar bukit Abi Qubeis. Mereka mengetahui bahwa di dekat bukit itu tentu terdapat air. Lalu kafilah itu mendekati tempat tersebut dan memang benar di sana ada air. Mereka pun mendapati Sitti Hajar dan puteranya Ismail ada di sana.  Maka suku Jurhum itu tinggallah di sana hingga turun-temurun. Mereka menjadi penduduk wadi itu yang pertama kali, dan wadi itu menjadi sebuah kota paling terkenal di seluruh dunia dikenal dengan nama Mekah.  

Di tanah Mekah inilah Siti Hajar wafat dalam usia 90 tahun. Sedangkan puteranya Ismail kawin dengan seorang puteri suku Jurhum sampai akhir hayatnya, dan dimakamkan dekat Ka’bah.

Rupanya doa Nabi Ibrahim a.s. dikabulkan Tuhan, sehingga wadi yang kering dan tandus itu pada akhirnya menjadi sebuah kota yang ramai banyak dikunjungi oleh Ummat Islam di seluruh dunia untuk menunaikan ‘ibadah haji.   

Referensi: 
C.Israr, “Sejarah Kesenian Islam”- Bulan Bintang - Jakarta1978

Pangarakan, Bogor
Sabtu, 16 Januari 2016 – 08:42 WIB