Kamis, 14 Juli 2016

"ONDEL-ONDEL BETAWI" Diceritakan oleh Kak Sita

Blog Sita : Nina Bobo
Jumat, 15 Juli 2016 - 08:03 WIB

Ondel-Ondel Betawi di Kp. Kramat Asem
Assalamu'alaikum ...
Adik-adik, kakak ucapkan Selamat Hari Raya Lebaran, Idul Fitri 1437 Hijriah mohon maaf lahir batin. Oya, kali ini Kak Sita ingin bercerita tentang pengalaman kakak waktu berkunjung ke rumah orang tua kakak di Kampung Kramat Asem Utankayu Selatan bersama suami dan anak-anak untuk berlebaran. 

Adik-adik, ada yang menarik, lho! Waktu kakak berada di sana, ada pertunjukan kesenenian Betawi Ondel-Ondel yang dimainkan oleh rombongan pengamen. Nah, cerita  tentang ondel-ondel itu kakak taut saja dari tulisan suami kakak sendiri, inilah tulisannya!.

Drs. Slamet Priyadi
S o r e  i t u  Sabtu, 09 Juli 2016 sekitar pukul 16:00 WIB di Kp. Kramat Asem, Utankayu Selatan terdengar gesekan instrumen musik rebab yang melengking keras dan seperangkat instrumen perkusi kecrek, kenong, dan kendang memainkan lagu-lagu gambang kromong. Beberapa di antaranya adalah Jali-Jali, Sirih Kuning, dan Ondel-Ondel dari album lawas Ida Royani-Benyamin Sueb.

Rupanya lagu-lagu instrumen tersebut dimainkan oleh skelompok pengamen muda belia berusia belasan tahun, mengiringi tarian sepasang ondel-ondel Betawi yang bergoyang, berbutar-putar di sepanjang jalan gang sempit di tengah padatnya perumahan penduduk yang dilewatinya. Persis, ketika rombongan pengamen onde-ondel itu lewat di depan rumah Almarhum bapak Aspas, tempat singgah kami sekeluarga lebaran Idul Fitri 1437 Hijriah. Di halaman rumah yang tak begitu luas, rombongan pengamen itu berhenti. 
 
Tak berapa lama kemudian rombongan pengamen ondel-ondel itu kembali memainkan musik Betawi irama gambang kromong dengan lagu-lagu khasnya yang sudah tak asing lagi bagi warga  Kampung Kramat Asem, Utankayu Selatan yang memang mayoritas penghuninya adalah masyarakat Betawi. Sepasang ondel-ondel Betawi kembali menari-nari, berputar-putar, berjalan lenggak-lenggok kian kemari mengikuti irama lagu dan iringan musik pengiring yang mengalun mendayu-dayu, merayu-rayu penuh kemayu.  
Sementara musik dan ondel-ondel terus beraksi, salah seorang rombongan pengamen berkeliling mengajak penonton yang kebanyakan anak-anak dan ibu rumah tangga untuk memberi uang saweran. Karena tak banyak anak-anak dan ibu-ibu penonton yang berpartisipasi memberi uang
saweran, aku bertanya kepadanya:

“Oya, mong-omong kalo satu lagu berapa uang sawernya?”
“Lima ribu rupiah, pak!” jawabnya singkat.
“Baik, kalo begitu saya pesan lima lagu, ya!”
 
Aku pun segera ambil uang dari saku baju Rp.10.000 dan minta pula pada isteri dan saudara iparku yang ikut menonton hingga terkumpul semuanya sebanyak Rp.25.000 lalu serahkan ke padanya. Meski nilai uang itu relatif tak seberapa untuk sebuah apresiasi musik, namun ada keceriaan nampak pada wajah rombongan pengamen Ondel-ondel, karena tujuan mereka mengamen lewat kesenian Ondel-Ondel Betawi, semata-mata adalah untuk melestarikan budaya Betawi, khususnya kesenian Ondel-Ondel yang kini sudah mulai ditinggalkan oleh banyak generasi muda Betawi itu sendiri.
Kramat Asem, Utankayu Selatan
Sabtu, 09 Juli 2016 – 22 : 15 WIB
 
"PENDIDIKAN DALAM KELUARGA": ONDEL-ONDEL BETAWI SEMARAKKAN LEBARAN DI KP. KRAM...: Blog Sita: Pendidikan Dalam Keluarga Jumat, 15 Juli 2016 - 06:57 WIB Ondel-Ondel Betawi di Kp. Kramat Asem   Drs. Slamet Priyadi

Sabtu, 25 Juni 2016

MENJAWIL KISAH QABIL DAN HABIL Karya : Sita Rose

Sita Blog : "Nina Bobo"
Minggu, 26 Juni 2016 - 06:01 WIB

Image: "Kisah Qabil dan Habil" (Foto: Bahrun Rahimsyah)
Kisah Qabil dan Habil
“MENJAWIL KISAH QABIL DAN HABIL”
Karya : Ki Slamet 42

Alkisah Hawa isteri Adam lahirkan Qabil dan Iqlima
Qabil berwajah tampan, perkasa, gagah  mempesona
Iqlima berparas rupawan, menarik, dan cantik jelita
Merekalah  anak kembar pertama  Adam dan Hawa
Yang diasuh  dan dibesarkan dengan sepenuh cinta

Di tahun berikutnya lahirkan lagi Habil dan Labuda
Habil tak setampan Qabil tapi lebih baik perilakunya
Labuda tiada secantik Iqlima tapi ramah tutur sapa
Merekalah anak kembaran  kedua  Adam dan Hawa
Yang diasuh  dan dibesarkan dengan sepenuh cinta

Dari kedua pasang anak kembar ini berbiak manusia
Jadi berjenis-jenis suku berbermacam-macam bangsa
Dengan berbagai rupa warna kulit  dan karakternya
Yang timbulkan beragam bahagia  dan duka nestapa
Sebab bermanja-manja bertemali kasih nafsu angkara

Awal cerita kriminal tentang laku kejamnya manusia
Ketika Nabi Adam  mendapat petunjuk Allah Ta’ala
Kawinkan anak-anaknya yang telah beranjak dewasa
Qabil dengan Labuda  adapun  Habil dengan Iqlima
Itu syariat Allah kepada Adam agar melaksakannya

Adam pun segera laksanakan petunjuk Allah Ta’ala
Kawinkan Qabil dengan Labuda,  Qabil menolaknya
Karena Qabil sudah terlanjur suka dan cinta Iqlima
Sedankan Habil dan Iqlima patuh dan menurut saja
Sebab menyadari itu sudah ketentuan syariat agama

Demi melihat Qabil tetaplah menolak keputusannya
Adam perintahkan  Qabil dan Habil  agar keduanya
Memberi persembahan qurban kepada  Allah Ta’ala
Agar mereka tahu sendiri bahwa perlakuan ayahnya
Semata-mata itu atas dasar ketentuan syariat agama

Dengan  disaksikan keluarga  dan  putera-puterinya
Qabil, Habil pun masing-masing serahkan qurbannya
Mereka letakkan qurban di atas bukit Arafah sana
Qabil qurbankan sedikit gandum hasil pertaniannya
Habil  qurbankan kambing yang sangat  disayangnya

Setelah mereka letakkan qurban di atas bukit sana
Merekapun cepat kembali ke tempat tinggal semula
Dari jauh mereka sekeluarga saksikan secara nyata
Qurban gandum sembahan Qabil tetap utuh adanya
Qurban kambing Habil lenyap tersambar api dahana

Saksikan sendiri qurban sembahannya tak diterima
Remuk redamlah  hati Qabil,  dia demikian kecewa
Dia terpakasa menerima keputusan kawini Labuda
Sedang Habil  yang sembahan  qurbannya  diterima
Dia bersyukur ikhlas terima ketentuan Allah Ta’ala

Ketika hati dirudung duka dan kecewa tiada tara
Maka datang sang Iblis durjana penggoda manusia
Bisikkan ke telinga Qabil bujukkan suatu rencana
Agar adik kandungnya sendiri  Habil dibunuh saja
Agar tiada ada lagi penghalang untuk miliki Iqlima

Qabil terjerat jua bisikan dan bujukan Iblis durjana
Saat Habil gembalakan ternaknya  di tepi belantara
Tempat sepi jauh dari pemukiman Adam dan Hawa
Qabil keras pukul kepala Habil dengan kayu hingga
Adik kandungnya itu tewas seketika  temui ajalnya

Inilah peristiwa kriminal pertama atas umat manusia
Sebab nafsu tamak, iri, dengki,  tega bunuh sesama
Tak peduli meski adik kandung sendiri tak mengapa
Dia tiada bisa mengekang rasa ego yang menggelora
Terjerumus di lembah nista,  terbujuk Iblis durjana

Begitulah Qabil  yang sudah dirasuk  nafsu angkara
Dia tak bisa mengekang  segala ajakan berbuat dosa
Melihat adiknya tewas timbul rasa takut tak terkira
Ia berlari kesana kemari tak tahu mesti berbuat apa 
Tiada berani kembali pulang  menemui orang tuanya

Qabil kembara entah kemana hutan rimba belantara
Lembah, ngarai, sungai,  ombak samudra  dilaluinya
Konon cerita Qabil  jadi  penghamba Iblis penggoda
Ajak  bujuk manusia lakukan maksiat berbuat dosa
Bersumpah tiada mau henti sampai hari kiamat tiba

Melihat kenyataan ini betapa duka Adam dan Hawa
Dia pasrah dan berserah diri pada  Tuhan Pencipta
Anggap semua kejadian itu takdir dari Allah semata
Dan mesti diterima dengan kesabaran rasa dan atma
Adam Hawa berdoa pada Allah mohon ampunanNya

R e f e r e n s i :
Burhan Rahimsyah
Memetik Hikma Dari Kisah Teladan
25 Nabi & Rasul - Lintas Media - Jombang

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 25 Juni 2016 – 23:25 WIB

 

Sabtu, 18 Juni 2016

PUISI : MANUSIA PERTAMA ADAM DAN HAWA KARYA KAK SITA

Sita Blog : Nina Bobo
Minggu, 19 Juni 2016 - 04:21 WIB

Image "Kisah Manusia Pertama" (Foto: SP)
Kisah Manusia Pertama

“MANUSIA PERTAMA ADAM DAN HAWA”
Karya : Kak Sita Rose

Terkisahlah Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa
Diturunkan Tuhan ke dunia dari  Swargaloka
Sebab konsumsi buah khuldi yang sebelumnya
Tuhan telah peringati agar tidak memakannya
Tetapi mereka berdua tetap saja melanggarnya

Adam dan Hawa tergoda rayuan Iblis durjana
Yang tak menyadari itu suatu jerat mencelaka
Agar mereka tak bisa hidup kekal dalam sorga
Kehidupan penuh kenikmatan kekal selamanya
Sebab itu, Iblis, Adam, Hawa terima akibatnya

Maka, mereka diturunkan Tuhan ke bumi loka
Kembara di alam fana hidup penuhlah sengsara
Konon kisah Adam diturunkan di tanah Hindia
Sedang Siti Hawa diturunkan di jazirah Arabia
Iblis jadi penggoda manusia  agar berbuat dosa

Di bumi,  Adam terus berkelana cari Siti Hawa
Siti Hawa, cari Adam tak kenal lelah putus asa
Berbagai macam rintangan, derita, mara bahaya
Mereka  hadapi  dengan penuh  ketabahan jiwa
Hingga Tuhan mempertemukan mereka berdua

Kononlah kisah di Padang Arafah Adam Hawa
Dipertemukan lagi oleh Tuhan Maha Pencipta
Setelah empat puluh tahun lamanya tak jumpa
Nampak Adam dan Hawa saling bertatap mata
Lalu saling lepas rindu, dunia jadi milik mereka

Mereka pun  tinggal menetap  di dalam gua-gua
Di sekitar daerah padang Arafahlah tempatnya
Berbekal ilmu,  alam sekitar pun  mereka kelola
Mengolah lahan berburu hewan di hutan rimba
Miliki anak Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda

 Bumi Pangarakan, Bogor
Minggu, 19 Juni 2016 – 03:36 WIB

Referensi:
Burhan Rahimsyah
Memetik Hikmah Dari Kisah Teladan
25 Nabi & Rasul 

 

Sabtu, 14 Mei 2016

KISAH DA’WAH ABU HURAIRAH Karya : Ki Slamet 42

Blog Sita Rose : Nina Bobo
Minggu, 15 Mei 2016 - 10:20 WIB

Image "Abu Hurairah" ( Foto : Google )
Image "Abu Hurairah"
Image "Abu Hurairah" ( Foto: Google )
Image "Abu Hurairah"

“KISAH DA’WAH ABU HURAIRAH”

Karya : Ki Slamet 42

Ketika panas sinar mentari selimuti kota Madinah
Sungguh itu tiada surutkan langkah Abu Hurairah
Mendatangi satu pasar yang orang ramai melimpah
Dengan segala kesibukan dagang yang riuh meriah
Hingga tiadalah sadar, matahari telah sepenggalah
Waktu datangnya shalat dzuhur menghadap Allah

Lihat banyak orang-orang di pasar lupakan ibadah
Abu Hurairahpun nampaklah berang sedikit marah
Berdiri di tengah-tengah pedagang pasar, sesorah :
“Berdosalah, hai kalian orang-orang Islam Madinah!”
jawab mereka: “Dosa apa yang kami buat,Hurairah?”

Meski sedikit marah, Abu Hurairah berkata ramah :
“Tahukah kalian bahwa harta Peninggalan Rasulullah
Telah dibagi-bagi sementara kalian masih sibuk di sini
Apa kalian tak ingin ambil jatah itu, cepatlah pergi?”
Para pedagang pasar itu senang, mereka tanya lagi :

“Dimana tempat bagi-bagi peninggalan itu,Hurairah?”
“Tentu saja, ya di masjidlah !” Jawab Abu Hurairah”
Orang-orang pasar itu pergilah ke masjid Madinah,
Sementara Abu Hurairah menanti mereka kembali
Tak berapa lama kemudian mereka pun datang lagi

Kecewa mendalam, mereka protes Abu Hurairah :
“Kau dusta, Kau telah dustai kami, Abu Hurairah,
Tak ada pembagian apa-apa di masjid Rasulullah!”
Nampak mereka kecewa sekali pada Abu Hurairah
Menanggapi mereka, berkatalah agak keras sesorah:

“Apa kalian tak melihat orang-orang di masjid sana?”
“Kami tidak lihat orang bagi-bagi harta peninggalan,
Kecuali orang-orang yang sedang melakukan shalat
Orangorang yang sedang mengaji, membaca al-Qur’an
Dan sedang serius berdikusi di dalam masjid sana!”

Demi mendengar jawaban para pedagang pasar itu,
Abu Hurairah pun mencelat sebat keraslah berseru:
“Berdosa dan celakalah kalian jika tak ikut menyatu
Dengan orang-orang yang ada di dalam masjid itu,
Sebab itulah peninggalan Rasulullah sesungguhnya!”  



Bumi Pangaran, Bogor
Minggu, 15 Mei 2016 – 09:57 WIB