Senin, 01 Oktober 2012

Asal Terjadinya Danau Si Losung Dan Si Pinggan Diceritakan oleh Sita


Pertarungan Datu Dalu dan Sangmaima
SELASA, 02 OKT. 2012 – SITA BLOG: Adik-adik terkasih, pernahkah adik-adik mendengar nama Si Losung dan Si Pinggan? Atau adik-adik berwisata berkunjung ke danau Si lLosung dan Si Pinggan di Tapanuli Utara. Oh ya, ada kisah yang menarik dari legenda Si Losung dan Si Pinggan ini. Baiklah kalau begitu, kakak akan menceritakannya sekarang. Disimak baik-baik, ya?! Cerita ini berasal dari Tapanuli Utara daerah Silahan, kecamatan Lintong Ni Huta, Sumatra Utara.

Diceritakan dua bersaudara sekandung, bernama Datu Dalu dan adiknya bernama Sangmaima. Orang tua mereka sudah meninggal dengan mewariskan berbagai ilmu kesaktian, pengobatan, dan juga sebuah tombak pusaka. Sesuai dengan adat di daerah itu bahwa anak tertualah yang berhak atas warisan orang tuanya, maka tombak pusaka itu jatuh ke tangan Datu Dalu. Tombak ini pun di jaga dan dipelihara oleh Datu Dalu dengan sebaik-baiknya.

Pada suatu ketika Sangmaima hendak pergi berburu babi hutan, maka bertandanglah ia ke rumah kakaknya Datu Dalu untuk meminjam tombak pusaka peninggalan ayahnya sebagai senjata berburu. Tiba di rumah kakaknya ia langsung menemui Datu Dalu yang pada saat itu memang sedang membersihkan tombak pusaka miliknya itu. Berkatalah Sangmaima kepada kakaknya:

            “Abang, tolonglah pinjami aku tombak pusaka peninggalan ayah kita karena aku akan pergi berburu babi hutan yang selama ini selalu menyerang kebun tanamanku.”

            “Baiklah adikku, akan abang pinjamkan tombak ini, akan tetapi ada syaratnya!” Jawab Datu Dalu sambil memperlihatkan tombak pusaka yang ada digenggamannya. 

            “Apa syaratnya itu, bang?” Tanya Sangmaima.

            “Tombak ini harus kau jaga baik-baik jangan sampai hilang terutama mata tombak ini karena sudah tua mata tombak ini mudah lepas, aku baru saja memperbaikinya.” Jawab Datu Dalu sambil mengarahkan telunjuknya ke arah mata tombak, dan memberikan tombak pusaka itu pada adiknya.

            “Baiklah bang, sebelumnya aku ucapkan terima kasih, dan sebaiknya aku mohon pamit sekarang. Aku sudah tak sabar lagi ingin membunuh babi-babi hutan yang sudah banyak merusak tanaman di kebunku itu.” Sangmaima menerima tombak pusaka dengan gembira dan segera ia pun kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan perlengkapan berburu.  

Beberapa waktu kemudian, sampailah Sangmaima di kebunnya. Di sana ia melihat seekor babi hutan yang sedang asyik memakan dan merusak tanaman di kebunnya.

            “Hei, dasar babi hutan keparat! Kau telah rusak dan makan habis tanamanku! Aku pasti akan kejar ke mana kau lari, aku akan membunuhmu!” Teriak Sangmaima sambil melemparkan tombak pusaka yang dipinjam dari kakaknya ke arah babi hutan yang ada di kebunnya itu. 

Meskipun tombak itu telah mengenai lambung babi hutan, tetapi sang babi hutan masih sempat menyelamatkan diri dengan berlari kencang kemudian melenyapkan diri ke  semak-semak yang banyak ditumbuhi pohon-pohon lebat. Sangmaima terus mengejar ke arah babi hutan melenyapkan diri tetapi tak didapatinya babi hutan yang telah terluka terkena tombak pusakanya. Di sana ia hanya mendapati batang tombak yang mata tombaknya sudah tak ada lagi. 

Sangmaima pun kembali ke rumahnya dan segera ia bertandang ke rumah kakaknya untuk melaporkan kejadian tersebut. Dia merasa pasti kakaknya akan marah besar mendengar berita mata tombak pusakanya hilang terpaut di lambung babi hutan yang diburunya.
Sesampai di rumah kakaknya, ia langsung menceritakan semua kejadian yang dialaminya itu kepada Datu Dalu. Mendengar ini kakaknya sangat marah.

            “Akh, kau! Pokoknya abang tak mau tahu. Kau harus menemukan dan mendapatkan kembali mata tombak pusaka warisan ayah kita itu secepatnya, faham kau.”

            “Baik bang, aku akan bertanggung jawab, dan akan aku cari mata tombak itu sampai dapat lalu secepatnya kuberikan kembali pada abang.”

            “Sudahlah, jangan banyak cakap. Sekarang juga kau berangkat mencari mata tombak itu.”

Saat itu juga Sangmaima berangkat ke hutan untuk mencari mata tombak pusaka yang hilang terpaut di tubuh babi hutan. Ia melacak jejak babi hutan yang terluka terkena tombaknya mulai dari tanaman di kebunnya yang habis dimakan dan dirusak sampai kepada jejak tapak kaki babi hutan yang menuju ke arah hutan. Akhirnya ia mendapatkan sebuah lubang besar tempat dimana babi hutan itu hilang melenyapkan diri. Dengan perlengkapan tali yang cukup panjang yang dibawanya, ia menuruni lubang itu sampai ke dasarnya.  Ternyata, lubang itu merupakan pintu gerbang menuju ke istana bawah tanah.

Di istana itu Sangmaima menemukan mata tombaknya yang hilang. Ia melihat mata tombak itu masih melekat di tubuh sang putri raja yang sedang sakit. Kini tahulah ia bahwa babi hutan yang diburunya, yang telah merusak tanaman di kebunnya itu ternyata jelmaan putri raja.  Dengan bekal ilmu pengobatan warisan dari ayahnya, diam-diam ia pun mengobati tuan putri raja hingga sembuh sehat seperti sedia kala. Setelah mengobati tuan putri ia kembali menemui kakaknya untuk mengembalikan mata tombak yang telah didapatkannya kembali. 

Melihat kedatangan adiknya yang telah berhasil mendapatkan kembali mata tombak pusakanya, Datu Dalu sangat gembira dan sangat senang hatinya. Saking gembiranya hati Datu Dalu dengan ditemukannya kembali mata tombak pusaka warisan ayahnya itu, ia mengadakan pesta adat secara besar-besaran dengan mengundang para tetangga dan masyarakat sekitar. Akan tetapi sayang sungguh disayang, Datu Dalu justru tidak mengundang adiknya sendiri Sangmaima untuk datang ke pesta adat tersebut. Tentu saja perlakuan ini telah membuat hati adiknya Sangmaima sangat tersinggung sekali. Rasa kecewa, dongkol dan kemarahan yang bergelora di hatinya itu ia lampiaskan dengan mengadakan pesta adat secara besar-besaran pula. Pesta itu diadakan Sangmaima di rumahnya sendiri pada waktu yang bersamaan. Dalam pestanya itu Sangmaima mengundang para tetangga dan masyarakat setempat yang dihibur dengan tontonan tarian yang dilakukan oleh seorang gadis penari yang seluruh tubuhnya dihiasi dengan bulu-bulu burung sehingga benar-benar menyerupai seekor burung Ernga yang biasa berkicau pada sore hari di daerah itu. Tentu saja keadaan semacam ini membuat para undangan dan masyarakat yang menonton merasa terhibur.  

Waktu terus berlalu, pesta adat di rumah Sangmaima semakin marak, para undangan dan masyarakat tetangga semakin banyak yang hadir untuk menikmati hiburan music dan tarian burung Ernga. Keadaan semacam ini membuat hati Datu Dalu menjadi iri karena pesta adat yang diselenggarakan di rumahnya semakin sepi dari para tamu undangan bahkan tak ada lagi yang datang ke pesta di rumahnya. Datu Dalu menjadi penasaran. Ia pun datang untuk melihat-lihat dan menyelidiki pesta adat di rumah adiknya. Setelah diteliti dan melihat keadaan sesungguhnya, ternyata ramainya para tamu undangan dan masyarakat setempat hadir ke pesta adat adiknya adalah karena adanya tontonan yang menarik, yaitu hiburan music dan tarian yang dimainkan oleh seorang gadis penari dengan tarian burung Ernga yang sangat mempesona. Pada saat itu pula ia masuk ke rumah Sangmaima lalu menjumpai adiknya dan berkata:

            “Dik, tolong pinjami abang kelompok penghibur dan penari burung Ernga itu untuk pesta di rumah abang.”

            “Baik bang, tapi ada syaratnya! Abang tidak boleh membikin perlengkapan music rusak atau hilang, apalagi burung Ernga itu, jangan sampai hilang. Apakah abang sanggup? Tukas Sangmaima kepada kakaknya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sang penari burung.  

            “Baiklah, abang berjanji akan menjaganya dengan sebaik-baiknya.” Jawab Datu Dalu sambil mengkerutkan keningnya. Rupanya ia agak kecewa dengan ucapan adiknya yang seakan-akan membalikkan omongannya saat adiknya meminjam tombak pusaka kepada dirinya tempo hari.

            “Kalau begitu, aku akan mengantarkan sendiri ke rumah abang seperangkat hiburan dan penari itu ke rumah abang setelah pesta ini.”

Singkat cerita, Sangmaima mengantarkan penari Ernga dan perangkatnya ke rumah kakaknya.  Hari pertama pesta adat itu diselenggarakan di rumah Datu Dalu, suasanya menjadi meriah dan ramai banyak dikunjungi para hadirin dan tamu undangan karena adanya tontonan itu. Pada malam harinya, diam-diam Sangmaima menjumpai gadis penari Ernga. Ia berkata kepada gadis itu:

            “Ernga, dengar baik-baik perkataanku. Besok pagi-pagi sekali, engkau harus meninggalkan tempat ini. Bawalah serta emas, pakaian yang telah diberikan padamu!”

            “Baik Tuanku!”

Pada hari yang kedua, Datu Dalu kembali memanggil Ernga untuk menghibur dengan tarian burung Ernga dan nyanyiannya yang sangat mempesona penonton itu. Berulang-ulang Datu Dalu memanggil Ernga bahkan sampai setengah berteriak. Akan tetapi gadis yang dipanggilnya tidak jua kunjung datang. Datu Dalu menjadi gusar, khawatir, dan cemas. Dia mencari ke sana ke mari tetapi Ernga tetap tidak tampak kelihatan. Pada saat itulah Sangmaima datang menjumpai kakaknya. Ia mengingatkan akan perjanjian yang telah disepakati bahwa kakaknya akan bertanggung jawab untuk menjaga Ernga jangan sampai hilang. 

            “Abang Datu, bagaimana ini? Abang sudah berjanji padaku kalau akan  menjaga Ernga dengan sebaik-baiknya, tapi apa yang terjadi? Abang sudah mengingkari janji, pokoknya aku tak mau tahu, abang harus mendapatkan Ernga itu kembali sebagaimana dulu abang tak mau tahu soal mata tombak pusaka itu!”

            “Aku mengaku salah, aku akan mengganti kerugian semuanya. Seberapa banyak pun jumlah uang yang kau pinta, abang akan menggantinya, faham kau!”

            “Seberapa pun aku tetap tak mau menerima ganti rugi abang, karena hanya Erngalah satu-satunya yang aku inginkan, bang. Pokoknya abang harus mendapatkan kembali gadis Ernga itu, aku tak mau tahu.” 

            “Berani-beraninya kau berkata kasar seperti itu pada abangmu, itu artinya kau menantang aku untuk berkelahi. Baiklah, aku akan melayanimu.”

Danau Si Losung
Danau Si Pinggan
Pertengkaran dan perkelahian pun akhirnya tak bisa dielakkan lagi. Keduanya sama-sama pilih tanding, sama-sama berilmu silat tinggi. Pertempuran pun semakin sengit, Keduanya saling mengeluarkan  ilmu kesaktiannya  masing-masing yang merupakan warisan dari ayahnya itu. Pada suatu kesempatan Datu Dalu melemparkan lesung yang berada tak jauh darinya. Dia lalu melemparkan lesung itu dengan sekuat tenaga. Lesung itu terlempar jauh melayang diangkasa dan jatuh didaerah kampung tempat tinggal Saimima. Aneh bin ajaib, seketika itu juga, tempat lokasi jatuhnya lesung itu berubah menjadi danau. Sampai sekarang danau itu dikenal dengan nama Danau Si Losung. Melihat ini, Sangmaima pun tak mau kalah. Dia pun melemparkan sebuah piring besar ke arah Datu Dalu, tetapi piring besar itu tidak mengenai tubuh kakaknya. Piring it uterus melayang sampai akhirnya jatuh di di kampong tempat tinggal Datu Dalu. Juga terjadi keajaiban, di tempat jatuhnya piring besar itu  muncul sebuah danau. Penduduk setempat menyebut danau itu dengan sebutan Danau Si Pinggan (piring). Begitulah legenda terjadinya danau Si Losung dan Si Pinggan dari daerah Tapanuli Utara. (Referensi: MB. Rahimsyah, Cerita Rakyat Nusantara, CV. Bringin 55. Solo)     

1 komentar:

  1. Datu Dalu melemparkan lesung yang berada tak jauh darinya. Dia lalu melemparkan lesung itu dengan sekuat tenaga. Lesung itu terlempar jauh melayang diangkasa dan jatuh didaerah kampung tempat tinggal Saimima. Aneh bin ajaib, seketika itu juga, tempat lokasi jatuhnya lesung itu berubah menjadi danau. Sampai sekarang danau itu dikenal dengan nama Danau Si Losung. Melihat ini, Sangmaima pun tak mau kalah. Dia pun melemparkan sebuah piring besar ke arah Datu Dalu, tetapi piring besar itu tidak mengenai tubuh kakaknya. Piring it uterus melayang sampai akhirnya jatuh di di kampong tempat tinggal Datu Dalu. Juga terjadi keajaiban, di tempat jatuhnya piring besar itu muncul sebuah danau. Penduduk setempat menyebut danau itu dengan sebutan Danau Si Pinggan (piring).

    BalasHapus